Dua Tahun Rehat, Tradisi Ya Qowiyyu Memutar Miliaran Rupiah di Jatinom Klaten

gocuj2fqmx1xq37vwjvn

Perhelatan Haul Ki Ageng Gribig yang dihelat di Kecamatan Jatinom, Klaten, Jawa Tengah pada Jumat (16/9/2022), memutar ekonomi di kecamatan tersebut. Pada puncak acara, menurut keterangan Camat Jatinom, Wahyuni Sri Rahayu, 4 ton kue apem dibagikan kepada warga.

"Alhamdulillah, setelah dua tahun terhenti karena Covid-19 acara ini berhasil dilaksanakan. Hal tersebut tak lepas dari keberhasilan pemerintah menangani wabah," ujar Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulis, Jumat (16/9/2022).

Airlangga yang juga merupakan keturunan Ki Ageng Gribig mengatakan, Ki Ageng mengajarkan umat Islam berdakwah dengan inovatif dan damai. Pada zamannya, Ki Ageng menggunakan apem untuk menarik minat warga Jatinom dan sekitarnya untuk belajar Islam.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan rasa syukurnya Ya Qowiyyu dilaksanakan kembali. Menurutnya, perhelatan akbar tersebut merupakan doa bagi rakyat Indonesia, agar bangsa ini menjadi bangsa yang makmur dan sejahtera, terhindar dari petaka.

"Ya Qowiyyu merupakan doa agar bangsa ini diberi kekuatan, dan bangkit lebih kuat," ungkap Ganjar.

Sementara itu, anggota DPR RI Singgih Januratmoko yang juga politis Golkar mengatakan, Haul Ki Ageng Gribig dengan puncaknya acara Ya Qowiyyu, membawa dampak ekonomi dan sosial yang positif.

"Acara setahun sekali ini, memutar ekonomi masyarakat. Ada tradisi pulang kampung yang melibatkan ratusan ribu perantau," ujar Singgih.

Ia memperkirakan sekitar 100.000-an warga Jatinom dan kecamatan di sekitarnya berkumpul di kota kecamatan itu dalam dua hari.

Mereka rata-rata menghabiskan Rp50.000 per hari untuk membayar parkir sepeda motor, membeli makanan dan minuman, "Dan tentu saja kue apem yang dijajakan warga," ujarnya. Sebungkus kue apem dihargai Rp10.000 dan warga membeli tak hanya sebungkus.

Perputaran uang bisa mencapai Rp5 miliar dalam penyelenggaraan dua hari tersebut. Singgih berharap, tradisi Ya Qowiyyu terus dipelihara, "Silaturahim yang dilaksanakan warga tersebut, menciptakan kerukunan, kekompakan, persatuan dan kesatuan bangsa. Itu menjadi modal dalam membangun bangsa," imbuhnya. Ikatan sosial tersebut, tambah Singgih, menciptakan jaring pengaman, ketika masyarakat menghadapi krisis ekonomi bahkan krisis sosial, di tengah ekonomi dunia yang lesu.

sumber : REPLUBIKA
Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Muhammad Fakhruddin

  • Hits: 16

Related Articles